Jejak Kehidupan Masyarakat Cisande Tempo Dulu

Setiap desa punya jejak masa lalu yang menarik untuk ditelusuri. Kadang jejak itu tidak selalu tertulis dalam buku sejarah besar, tetapi hidup dalam kebiasaan warga, nama tempat, pola bertani, tradisi makan bersama, aliran sungai, hingga cerita yang diwariskan dari orang tua ke anak-anaknya.

Begitu juga dengan jejak kehidupan masyarakat Cisande tempo dulu. Desa Cisande yang berada di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kini dikenal sebagai desa wisata edukasi.

Namun sebelum dikenal wisatawan, Cisande lebih dulu tumbuh sebagai desa agraris yang dekat dengan sawah, air, perikanan, peternakan, dan budaya Sunda.

Membahas Cisande tempo dulu berarti melihat bagaimana masyarakatnya hidup berdampingan dengan alam. Dari sawah yang menjadi sumber penghidupan, sungai yang mendukung aktivitas harian, sampai gotong royong yang menjadi perekat sosial, semuanya membentuk identitas desa.

Menariknya, jejak kehidupan lama itu tidak hilang. Justru hari ini banyak diangkat kembali menjadi pengalaman wisata edukasi yang bisa dinikmati pengunjung.

Mengenal Desa Cisande di Sukabumi

Desa Cisande merupakan salah satu desa di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dalam data BPS Kecamatan Cicantayan, wilayah kecamatan ini terbagi ke dalam 8 desa, dan Desa Cisande tercatat sebagai desa dengan luas wilayah paling kecil, yaitu sekitar 178,04 hektare.

Sebagian besar wilayah Kecamatan Cicantayan sendiri digunakan untuk lahan pertanian, baik sawah maupun non-sawah. Informasi ini penting karena memberi gambaran bahwa kehidupan masyarakat Cisande tidak bisa dilepaskan dari karakter wilayahnya.

Desa yang tidak terlalu luas biasanya memiliki hubungan sosial yang cukup dekat. Warga saling mengenal, aktivitas sehari-hari mudah terlihat, dan kehidupan kampung terasa lebih akrab.

Hari ini, Desa Wisata Cisande dikenal melalui berbagai aktivitas edukasi. Laman Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat bahwa Desa Wisata Cisande berada di Kampung Karadenan, RT 22/RW 07, Desa Cisande, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi.

Desa ini juga masuk dalam 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia atau ADWI 2021. Namun, sebelum menjadi destinasi wisata, Cisande lebih dulu hidup sebagai ruang masyarakat desa. Di sinilah cerita tempo dulu menjadi penting untuk dipahami.

Cisande Tempo Dulu sebagai Desa Agraris

Jejak kehidupan masyarakat Cisande tempo dulu sangat dekat dengan dunia agraris. Kehidupan warga banyak bersentuhan dengan tanah, air, tanaman, kolam, ternak, dan kegiatan produksi pangan.

Di desa seperti Cisande, sawah bukan hanya tempat bekerja. Sawah juga menjadi ruang belajar, ruang sosial, bahkan bagian dari identitas keluarga.

Anak-anak tumbuh dengan melihat orang tua pergi ke sawah, mendengar suara air irigasi, melihat padi menguning, dan mengenal musim tanam dari pengalaman langsung.

Kondisi Kecamatan Cicantayan yang sebagian besar lahannya diperuntukkan bagi pertanian memperkuat gambaran ini. BPS mencatat bahwa sebagian besar luas tanah di Kecamatan Cicantayan digunakan untuk lahan pertanian.

Dari sini kita bisa membayangkan kehidupan Cisande tempo dulu sebagai kehidupan yang berjalan mengikuti ritme alam. Ketika musim hujan datang, warga bersiap mengolah tanah.

Ketika padi tumbuh, perhatian tertuju pada air, hama, dan perawatan. Saat panen tiba, suasana kampung biasanya terasa lebih hidup karena hasil kerja panjang akhirnya terlihat.

Sawah sebagai Ruang Hidup dan Ruang Belajar

Bagi masyarakat pedesaan, sawah sering kali menjadi “sekolah pertama” yang tidak memakai papan tulis. Di sana, warga belajar sabar, teliti, bekerja sama, dan memahami perubahan cuaca.

Jejak ini masih terlihat dalam konsep wisata edukasi Cisande hari ini. Jadesta mencatat adanya aktivitas bercocok tanam, edukasi wisata, tangkap ikan, fun ngubeuk kulah, bootram kampung, hingga kegiatan alam seperti river tubing.

Aktivitas wisata tersebut sebenarnya berangkat dari kehidupan masyarakat desa. Menanam padi, bermain di kolam, makan bersama, dan mengenal alam bukan hal baru bagi warga.

Yang berubah adalah cara penyajiannya. Dulu kegiatan itu menjadi rutinitas harian, sekarang sebagian dikemas menjadi pengalaman belajar bagi wisatawan.

Inilah yang membuat Cisande menarik. Wisata edukasinya tidak terasa dibuat-buat karena punya akar dalam kehidupan masyarakat. Anak-anak yang datang bisa melihat langsung bagaimana makanan, air, dan alam saling terhubung dalam kehidupan desa.

Sungai dan Air dalam Kehidupan Masyarakat

Nama-nama tempat di wilayah Sunda banyak yang diawali dengan “Ci”. Secara umum, “ci” atau “cai” dalam bahasa Sunda berkaitan dengan air. Dalam konteks kehidupan desa, air memang punya peran besar karena menjadi sumber untuk sawah, kolam, kebutuhan rumah tangga, dan aktivitas alam.

Cisande hari ini juga masih memperlihatkan hubungan kuat dengan air. Salah satu atraksi yang dikenal adalah river tubing, yaitu aktivitas menyusuri sungai menggunakan ban dengan perlengkapan keselamatan. Jadesta mencatat river tubing sebagai salah satu atraksi wisata alam di Desa Wisata Cisande.

Kalau ditarik ke kehidupan tempo dulu, sungai biasanya tidak hanya dipandang sebagai tempat bermain. Sungai adalah bagian dari sistem hidup. Ia mengairi lahan, menjadi penanda wilayah, dan membantu aktivitas harian masyarakat.

Karena itu, menjaga sungai berarti menjaga kehidupan desa. Dalam konteks wisata hari ini, sungai bukan hanya aset rekreasi, tetapi juga warisan ekologis yang perlu dirawat agar tetap bersih dan aman.

Perikanan dan Peternakan dalam Kehidupan Warga

Selain pertanian, jejak kehidupan masyarakat Cisande juga dekat dengan perikanan dan peternakan. Hal ini terlihat dari pengembangan wisata edukasi yang sekarang menonjolkan budidaya ikan hias, ikan lele, dan edukasi peternakan.

Antara News pernah menulis bahwa Desa Wisata Cisande memiliki potensi perikanan dan agrowisata. Dalam kunjungan Menparekraf pada 2021, disebutkan bahwa desa ini sudah memiliki perikanan dan agrowisata, lalu didorong untuk mengoptimalkan wisata edukasi peternakan.

Kegiatan seperti budidaya ikan lele atau ikan hias sebenarnya dekat dengan kehidupan desa. Kolam-kolam kecil di sekitar rumah, saluran air, dan lahan yang tersedia membuat aktivitas perikanan mudah tumbuh.

Bagi masyarakat, ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga cara memanfaatkan ruang dan sumber daya alam. Dari sisi edukasi, perikanan dan peternakan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak.

Mereka bisa belajar bahwa ikan dan ternak membutuhkan perawatan, makanan, kebersihan, dan perhatian. Nilai seperti ini sederhana, tetapi sangat penting.

Gotong Royong sebagai Perekat Sosial

Gotong Royong Masyarakat Cisande
Gotong Royong Masyarakat Cisande

Jejak kehidupan masyarakat Cisande tempo dulu juga dapat dibaca dari budaya gotong royong. Di desa, banyak pekerjaan tidak bisa dilakukan sendirian.

Mengolah sawah, membangun fasilitas umum, mengadakan acara, menjaga lingkungan, atau menyambut tamu biasanya membutuhkan kerja bersama.

Gotong royong bukan sekadar membantu orang lain. Ia menjadi sistem sosial yang membuat warga merasa saling terhubung. Ketika ada yang punya hajatan, warga lain ikut membantu.

Ketika ada kegiatan kampung, banyak orang turun tangan. Ketika desa mulai mengembangkan wisata, semangat kebersamaan ini menjadi modal utama.

Model desa wisata Cisande memang sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Artikel UKM Indonesia menyebut bahwa Desa Wisata Cisande lahir dari kreativitas dan inisiatif penduduk lokal. Pengembangannya juga berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat.

Ini menunjukkan bahwa semangat lama masyarakat desa tidak hilang. Gotong royong yang dulu terlihat dalam kehidupan sosial, kini juga menjadi kekuatan dalam pengelolaan desa wisata.

Budaya Sunda dalam Kehidupan Sehari-Hari

Cisande berada di Sukabumi, wilayah yang sangat lekat dengan budaya Sunda. Dalam kehidupan masyarakat tempo dulu, budaya Sunda tidak selalu tampil sebagai pertunjukan besar. Ia hadir dalam bahasa, sopan santun, makanan, musik, silat, cara bertamu, dan tradisi makan bersama.

Hari ini, unsur budaya tersebut masih bisa ditemukan dalam atraksi Desa Wisata Cisande. Jadesta mencatat adanya atraksi rebana Sunda, pencak silat, kuliner Sunda, bootram kampung, dan edukasi membuat cincau hijau.

Tradisi makan bersama seperti bootram atau liwetan punya makna sosial yang kuat. Orang tidak hanya makan, tetapi juga duduk bersama, ngobrol, bercanda, dan mempererat hubungan. Suasana seperti ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat desa.

Pencak silat dan rebana Sunda juga memperlihatkan bahwa masyarakat Cisande tidak hanya hidup dari alam, tetapi juga dari warisan budaya. Seni menjadi cara warga menjaga identitas dan mengenalkan nilai lokal kepada generasi muda.

Rumah, Halaman, dan Ruang Sosial Kampung

Dalam kehidupan kampung tempo dulu, rumah bukan hanya tempat tinggal pribadi. Halaman rumah sering menjadi ruang sosial. Anak-anak bermain, ibu-ibu berbincang, bapak-bapak memperbaiki alat, dan tetangga saling menyapa.

Ruang sosial seperti ini membentuk karakter masyarakat yang akrab. Tidak semua hal harus formal. Banyak informasi, cerita, dan keputusan kecil lahir dari obrolan santai di teras, warung, sawah, atau jalan kampung.

Konsep ini masih terasa dalam desa wisata. Salah satu atraksi yang tercatat di Jadesta adalah “Teras Desa”, yang menggambarkan bagaimana ruang santai khas kampung bisa menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Bagi wisatawan kota, suasana seperti ini terasa menyegarkan. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, duduk di teras desa, menikmati udara terbuka, dan berbincang dengan warga bisa menjadi pengalaman yang hangat.

Dari Kehidupan Tradisional ke Desa Wisata Edukasi

Perubahan besar dalam perjalanan Cisande terjadi ketika kehidupan desa mulai dikemas sebagai wisata edukasi. Kegiatan yang dulu dianggap biasa, seperti menanam padi, menangkap ikan, membuat makanan tradisional, bermain di alam, dan mengenal budaya lokal, kini menjadi daya tarik wisata.

Desa Wisata Cisande menawarkan berbagai kegiatan seperti wisata edukasi, river tubing, fun outbound, bootram kampung, edukasi membuat cincau hijau, tangkap ikan, dan kegiatan budaya.

Perubahan ini menunjukkan bahwa jejak tempo dulu tidak harus ditinggalkan. Justru ia bisa menjadi kekuatan baru.

Cisande tidak perlu berubah menjadi tempat wisata modern yang kehilangan karakter. Desa ini cukup menggali kembali hal-hal yang sudah ada, lalu mengemasnya dengan lebih rapi, aman, dan menarik.

Di sinilah nilai penting Desa Cisande. Ia memperlihatkan bahwa masa lalu bukan sekadar nostalgia, tetapi juga modal pembangunan.

Peran Masyarakat dalam Menjaga Identitas Desa

Kemajuan Cisande tidak bisa dilepaskan dari masyarakatnya. Warga adalah penjaga cerita, budaya, lingkungan, dan suasana desa.

Pokdarwis, pelaku UMKM, petani, peternak, pemuda, ibu-ibu, tokoh budaya, dan pemerintah desa memiliki peran masing-masing. Mereka membantu menjaga agar desa wisata tetap berjalan tanpa kehilangan rasa kampungnya.

Menurut informasi dari berbagai platform wisata, Desa Wisata Cisande menonjolkan kegiatan edukasi, outbound, menganyam, tubing, flying fox, hingga fun games. Akun resmi Desa Wisata Cisande juga memperkenalkan tempat ini sebagai wisata edukasi dan outbound di Sukabumi.

Namun, yang paling penting bukan hanya atraksinya. Daya tarik utama tetap ada pada keramahan warga dan keaslian suasana desa. Tanpa masyarakat yang aktif, desa wisata akan kehilangan ruhnya.

Jejak Tempo Dulu yang Masih Relevan Hari Ini

Banyak orang mengira kehidupan tempo dulu hanya cocok untuk dikenang. Padahal, banyak nilai lama yang justru sangat relevan dengan kebutuhan hari ini.

Misalnya, kehidupan masyarakat yang dekat dengan alam mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan. Pertanian mengajarkan kesabaran dan ketekunan. Gotong royong mengajarkan kerja sama. Kuliner tradisional mengajarkan identitas. Seni lokal mengajarkan rasa bangga pada budaya sendiri.

Nilai-nilai inilah yang bisa menjadi kekuatan Cisande ke depan. Wisatawan tidak hanya datang untuk bermain, tetapi juga untuk belajar tentang cara hidup yang lebih membumi.

Bagi anak-anak, pengalaman seperti menanam padi, menangkap ikan, atau makan bersama di kampung bisa meninggalkan kesan mendalam. Mereka belajar bahwa kehidupan tidak hanya ada di layar gadget, tetapi juga di tanah, air, udara, dan hubungan antarmanusia.

Tantangan Melestarikan Cerita Lama Cisande

Salah satu tantangan besar adalah mendokumentasikan cerita lama. Banyak kisah desa biasanya hanya tersimpan dalam ingatan orang tua atau tokoh masyarakat. Jika tidak dicatat, cerita itu bisa hilang pelan-pelan.

Cisande bisa memperkuat identitasnya dengan membuat arsip cerita warga, dokumentasi foto lama, wawancara sesepuh, peta sejarah kampung, atau papan informasi di area wisata.

Cerita tentang sawah, sungai, kebiasaan warga, permainan tradisional, dan budaya lokal bisa dikemas menjadi materi storytelling untuk pengunjung.

Langkah seperti ini penting secara budaya dan juga bermanfaat untuk promosi wisata. Artikel, video, dan konten SEO tentang jejak kehidupan masyarakat Cisande tempo dulu bisa membantu lebih banyak orang mengenal desa ini secara lebih mendalam.

Dengan begitu, wisatawan tidak hanya tahu bahwa Cisande punya river tubing atau outbound. Mereka juga memahami bahwa di balik atraksi itu ada sejarah sosial, kerja keras warga, dan warisan kehidupan kampung.

Jejak kehidupan masyarakat Cisande tempo dulu terlihat dari kehidupan agraris, kedekatan dengan air, tradisi perikanan dan peternakan, budaya Sunda, serta semangat gotong royong yang masih terasa sampai sekarang.

Cisande bukan sekadar desa wisata, tetapi ruang hidup yang menyimpan cerita panjang masyarakat pedesaan Sukabumi. Menariknya, jejak masa lalu itu tidak hilang ketika Cisande berkembang menjadi desa wisata edukasi.

Justru kegiatan seperti menanam padi, tangkap ikan, bootram kampung, river tubing, kuliner Sunda, dan pencak silat menjadi cara baru untuk mengenalkan identitas desa kepada wisatawan.

Kalau kamu berkunjung ke Desa Wisata Cisande, jangan hanya menikmati wahana. Cobalah mendengar cerita warganya, merasakan suasana kampungnya, dan ikut menjaga warisan lokal yang membuat desa ini istimewa.

FAQ

1. Seperti apa kehidupan masyarakat Cisande tempo dulu?

Kehidupan masyarakat Cisande tempo dulu sangat dekat dengan pertanian, perikanan, peternakan, sungai, budaya Sunda, dan gotong royong antarwarga.

2. Apa yang menjadi mata pencaharian masyarakat Cisande?

Secara umum, wilayah Cicantayan banyak berkaitan dengan lahan pertanian. Di Cisande, jejak agraris juga terlihat dari aktivitas wisata edukasi seperti bercocok tanam, budidaya ikan, dan peternakan.

3. Apakah budaya Sunda masih terlihat di Cisande?

Ya. Budaya Sunda masih terlihat melalui kuliner Sunda, bootram kampung, rebana Sunda, pencak silat, serta keramahan masyarakat lokal.

4. Mengapa Cisande cocok disebut desa wisata edukasi?

Karena pengunjung bisa belajar langsung dari aktivitas desa, seperti menanam padi, menangkap ikan, membuat cincau hijau, mengenal budaya lokal, dan menikmati wisata alam.

5. Apa pentingnya melestarikan cerita lama Cisande?

Cerita lama penting untuk menjaga identitas desa, memperkuat kebanggaan warga, dan memberi pengalaman wisata yang lebih bermakna bagi pengunjung.